Syirik, Bukan hanya menyembah berhala saja

Baik dalam Pandangan Allah dan Berbuat Baik Kepada Sesama
Review Buku oleh : Muhammad Hafidz

Syirik, Bukan hanya menyembah berhala saja

Judul Buku: Saleh Ritual, Saleh Sosial
Penulis: Gus Mus (K.H. A. Mustofa Bisri)
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: II,  Oktober 2016
Tebal: 204 halaman
ISBN: 978-602-279-203-1

Dalam buku yang berjudul Saleh Ritual, Saleh Sosial ini, gus mus menuangkan catatan-catatan perjalanannya.
Seperti yang diungkapkan dalam pengantarnya,karena sebuah catatan perjalanan, isinya bermacam-macam.
Dari hal yang berkenaan dengan diri sendiri, bermunajat kepada Allah, bergaul dengan sesama, sampai persoalan politik dan kenegaraan.
Di dalam salah satu judul catatannya,  gus mus mengutip ayat yang menjelaskan bahwa  Allah menciptakan jin dan manusia agar mengabdi dan menyembah kepadaNya. (QS. 51 : 56).
Setiap laku hidup dalam kehidupan manusia haruslah bertujuan untuk menyembah dan mengabdi kepada Allah.
Mengabdi tidak hanya terbatas melakukan ibadah shalat, puasa dan haji saja, akan tetapi, kita menyembah dan mengabdi kepada Allah dalam shalat kita, dalam puasa kita, dalam zakat kita, dalam haji kita, dalam pergaulan rumah tangga dengan anak - istri kita, dalam pergaulan kemasyarakatan dengan tetangga dan sesama, pendek kata dalam segala gerak langkah hidup kita.
Bahkan seperti senantiasa kita ikrarkan,  "inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil 'alamin. Shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semata mata adalah bagi Allah tuhan semesta alam. " (halaman 34-35).

Pengabdian kepada Allah pantangan yang harus dijauhi adalah berbuat syirik kepada Allah.
Yang difahami kebanyakan, syirik yang merupakan dosa yang paling besar ini adalah menyembah selain Allah.

Dengan pemahaman yang lebih luas, Gus mus menjelaskan dengan bahasa yang mudah difahami siapapun bahwa syirik itu bukan hanya menyembah berhala.
Akan tetapi bagi siapa saja yang menuhankan atau memberhalakan  selain Allah termasuk kategori syirik.

Abu Jahal, Abu Lahab,Umayyah bin khalaf, dan lain-lain, disebut kaum musyrik, yaitu orang-orang yang mempersekutukan Allah, karena mereka mempercayai Allah tetapi terus mempertuhankan berhala.
Dan berhala itu tidak berasal dari batu atau kayu.
Orang-orang Nasrani dan Yahudi yang mempercayai Allah, oleh al-Qur’an disebut juga sebagai kaum musyrik.
Mereka mempertuhankan pemimpin mereka dan al-Masih bin Maryam (halamaan 70).

Dalam buku kumpulan essay yang telah dimuat diberbagai media massa ini, gus mus juga menggambarkan dengan bahasa yang singkat, padat serta bermakna dalam mengenai sifat yang paling menonjol dari kanjeng Nabi Muhammad Saw, yakni sifat kemanusiaannya.
Beliau adalah manusia paling manusiawi yang paling mengerti dan menghargai manusia.
Beliau sesuai pengakuannya sendiri, adalah manusia biasa yang beribadah sebagai hamba dan hidup bergaul sebagai anggota masyarakat.
Berpuasa dan tidak berpuasa, ke masjid dan ke pasar, makan-minum dan menikah.
Senang dan sedih meski tidak berlebihan.
Tertawa walaupun tidak keterlaluan. (halaman 46)

KH. Mustofa Bishri juga menggambarkan sirah Nabi Muhammad yang belum diketahuai oleh banyak orang.
Diantaranya, Nabi Muhammad menambal sendiri terompahnya yang putus dan menjerumat pakaiannya yang robek.
Nabi membantu urusan rumah tangga dan ke pasar.
Nabi memanjakan, bertengkar dan bercanda dengan istri-istrinya.
Nabi pernah mempersingkat shalatnya ketika mendengar ada bocah menangis.
Nabi pernah memarahi sahabatnya yang mengimami shalat dengan bacaan yang terlalu panjang hingga para makmumnya mengeluh (halaman 47).
Kanjeng Nabi pernah mencari-cari wanita tukang sapu masjid dan menanyakan kabarnya ketika lama tidak dilihatnya.
Nabi menyarankan Zainab untuk shalat seukur kondisi tenaganya, kalau tidak kuat berdiri ya duduk, atau kalau tidak kuat shalat dengan tidur.
Nabi menggoda wanita tua dengan mengatakan “di surga tidak ada wanita tua”.

Buku ini sangat perlu dibaca siapapun.
Dengan membaca buku ini, kita seperti mendengarkan pituah-pituah tanpa merasa dihakimi dan dipakasa berfikir hitam-putih.
Karena, beberapa tema dalam buku ini disuguhkan dengan gaya bercerita layaknya cerpen Sebaliknya, kita merasa mendapatkan pencerahan tentang persoalan diri kita, kehambaan kita kepada Allah, bermasyarakat dan bernegara.
Selamat membaca.

Comments